PENGURANGAN KUOTA HAJI TAHUN INI

Kementerian Agama berusaha melobi Kerajaan Arab Saudi agar membatalkan pengurangan kuota haji untuk Indonesia. Pemerintah juga tengah merancang skenario seandainya pengurangan kuota tersebut dilaksanakan.

“Kami lakukan lobi dan diplomasi hingga tingkat Presiden,” kata Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Anggito Abimanyu, saat dihubungi, Jumat, 14 Juni 2013.

Melansir situs Kementerian Agama, kuota haji Indonesia awalnya 211 ribu jemaah, terdiri dari 194 ribu haji reguler dan 17 ribu haji khusus. Pemerintah Arab Saudi meminta Indonesia untuk mengurangi 20 persen atau 42.200 dari total kuota haji tahun ini.

Anggito belum dapat memastikan apakah lobi tersebut sudah membuahkan hasil atau belum. Upaya pemerintah membatalkan rencana Arab Saudi mengurangi kuota masih berlangsung. Kementerian Agama baru menyampaikan bahwa pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengurangi kuota haji tahun 2013. Pengurangan ini disebabkan keterlambatan penyelesaian rehabilitasi Masjidil Haram. Akibat keterlambatan ini, daya tampung jemaah haji berkurang.

 

Anggito mengatakan Kementerian belum menyisir calon haji dari daerah mana saja yang keberangkatannya dibatalkan. “Kami masih menunggu hasil lobi,” katanya.

Pemerintah Arab Saudi mengurangi kuota jemaah haji 2013 sebanyak 20 persen. Kebijakan ini, menurut Menteri Agama Suryadharma Ali, diberlakukan untuk jemaah haji dari seluruh dunia. Adapun pengurangan kuota ini karena keterlambatan rehabilitasi Masjidil Haram.

ANANDA BADUDU TEMPO.CO

Advertisements

DAFTAR HAJI SEKARANG BERANGKAT SECEPATNYA KAPAN ?

Kepala Bidang Haji dan Umrah, Departemen Agama Kabupaten Pinrang, Munta, mengatakan daftar tunggu haji untuk Kabupaten Pinrang sudah mencapai 7.000 orang. Hal itu diungkapkan Munta saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (20/8/2013).

Munta mengatakan, jika seorang calon jemaah haji mendaftar hari ini untuk berangkat ke Tanah Suci melalui jalur reguler, maka ia baru berangkat sekitar 20 tahun mendatang. “Jika kita menghitung jumlah kuota sekarang ini yaitu 285, maka yang mendaftar hari ini baru bisa berhaji 20 tahun kemudian,” jelas Munta.

Tahun ini, Kabupaten Pinrang akan memberangkatkan 285 calon jemaah haji. Sebanyak 285 calon jemaah haji tersebut akan bergabung dengan kloter 14 embarkasi Makassar.

“Insya Allah mereka berangkat 22 September mendatang. Bergabung dengan kloter 14 embarkasi Makassar, rencananya baru berangkat ke Jeddah keesokan harinya,” jelas Munta.

Warga yang berminat berangkat haji, cukup menyetor dana Rp 25 juta sebagai setoran awal, tetapi diperkirakan baru bisa berangkat 20 tahun kemudian. 

TIPS MEMBELI OLEH OLEH HAJI

Sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia, setiap kali ada kerabat atau tetangga yang pulang dari tanah suci , selalu ditengok untuk sekadar mengucapkan selamat datang maupun hanya mau mendengarkan kisah perjalanan dan pengalaman selama di Tanah Suci. Tak sedikit pula yang menanyakan oleh-oleh dari Makkah. Kira-kira, apa saja ya oleh-oleh haji yang biasa dibawa pulang para jamaah haji? di bawah ini kami akan sahraing beberapa oleh-oleh haji yang paling sering di jadikan oleh-oleh haji oleh jemaah haji indonesia.

Air Zam-Zam

Oleh-oleh haji yang paling dinantikan adalah air Zamzam dari mata air di Bukit Marwah. Sebab diyakini, air ini sangat sehat walau dalam kondisi mentah dan memiliki aneka khasiat bagi tubuh. Benar, air Zamzam mengandung kadar flouride tinggi sehingga baik untuk kesehatan gigi dan aman dikonsumsi langsung karena flouride mampu membunuh mikroorganisme jahat. Oleh-oleh khas lainnya adalah kurma, kacang, cokelat, kismis, manisan buah tin, tasbih, sajadah, Al’Quran, parfum, pacar henna, minyak zaitun, ramuan herbal othem, aneka souvenir khas Arab Saudi bergambar Ka’bah, cucing atau gelas air Zamzam, peci, kopiah, biskuit khas isi kurma, hati unta, kurma hijau, madu, rumput fatima, mukena, pasmina, jilbab, perhiasan emas, perlengkapan wanita (lipstik hare, krim, minyak rambut, sabun zaitun, celak mata) dan kaligrafi.

Kurma
oleh-oleh haji yang kedua yang paling di nanti tidak lain dan tidak bukan yaitu kurma Kurma sendiri ada bermacam-macam jenisnya. Mulai dari kurma jomara, ambar dari Madina yang berkualitas super, ajwa yang paling mahal karena mutu dan ukurannya, jabari, tangkai, lulu yang bulat dan berwarna coklat muda, sayer, khudori, sampai salabi. Kacang khas Arab Saudi adalah kacang Kacang Pistachio yang gurih dan renyah dengan warna hijau kekuningan serta kacang Arab bulat tanpa kulit. Madu yang terkenal adalah Madu Kashmir yang berasal dari Hadramout, Ma’jun Syifa dan madu Al Barokah.
Lokasi membeli oleh-oleh Haji
Lokasi untuk membeli perhiasan ada di dekat pemakaman Baqi, Madinah. Pembandingan harga dapat dilakukan di toko perhiasan yang banyak berjejer di belakang masjid Nabawi di bawah hotel Taiba.

Jika akan membeli kurma, di Pasar Kurma Madinah Dantes Market di sebelah selatan masjid Nabawi. Sajadah dan karpet ada di bawah Hotel Taiba, Madinah. Kebutuhan lainnya (baju gamis,baju Abaya, Uqal, Sorban, peci haji, tasbih, dll bisa diperoleh di pertokoan di sekitar Hotel Rawdah Madinah. Bagi yang suka parfum, Jeddahlah surga untuk berbelanja parfum. Toko yang paling komplit dan murah di sana adalah Toko Ali Murah & Amir Perfumes.

Kini mencari oleh-oleh haji, tidak perlu harus belanja di Arab Saudi. Sebab berbelanja di Tanah Suci selain menyita waktu untuk ibadah, juga sangat melelahakan, harus memikirkan biaya pengiriman, terkena denda karena over bagasi, resiko paket yang dikirim tidak sampai, dan resiko tertipu harga karena kendala bahasa saat menawar.

Di tanah air juga ada lokasi untuk oleh-oleh haji tempatnya di Jakarta pusat , tepatnya di Pasar Tanah Abang telah ada sentra penjualan aneka macam produk yang biasa dibawa jamaah haji dari Tanah Suci. Apa pun jenis produk Timur Tengah itu, dapat ditemukan di pasar yang berlokasi di Jalan KH Mas Mansyur ini. Toko mulai buka setiap hari pukul 09.00 hingga 17.00. Bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi, angkutan umum, maupun taksi. Barang-barang tersebut diimpor resmi oleh eksportir.

Semua harga barang masih bisa ditawar, pedagang menjamin harga barang tidak berbeda dengan harga di Arab Saudi, seperti di Jeddah, Medinah atau Mekkah. Bahkan kini juga mulai ada penjualan oleh-oleh khas haji yang diimpor langsung dari Arab saudi secara online. Barang-barang khas Arab Saudi juga bisa ditemukan di Pasar Ikan jalan Kereta Api Medan. Kebanyakan warga yang naik haji membeli oleh-oleh khas Arab Saudi seperti ceret kuningan, buah kurma, pakaian muslim bahkan air Zamzam pada pedagang di pasar ini.

Toko online yang menjual oleh-oleh haji bisa Anda telusuri dengan cara yang amat mudah. Masuk saja ke situs google.co.id. lantas, masukkan kata-kata kunci “oleh-oleh haji”/ Wuzz… berderet-deret toko online yang menjual oleh-oleh haji bakal terpapar di depan mata Anda.

dan masih banyak lagi.

Tapi hati-hati lho kalau membeli air Zam-zam di tanah air. Bukan memperoleh kasiat, bisa jadi Anda dan kerabat yang memperoleh oleh-oleh jadi sakit perut. Mengapa? Ya, sebab diduga saat ini ada saja yang bertindak jahat dengan memalsukan air Zam-zam. Asal Anda tahu, air Zam-zam sendiri sudah tidak boleh diekspor. demikianlah beberapa informasi mengenai oleh-oleh haji semoga bermanfaat ..

MOTIVASI HAJI KEUTAMAAN HAJI DAN UMRAH DALAM ISLAM

 Haji adalah rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi orang yang mampu, baik mampu secara materi, maupun secara ruhani. Sayangnya, orang yang secara materi tergolong mampu, banyak yang belum mau menunaikan ibadah suci ini dengan berbagai alasan. Ada yang mengatakan, “Saya sibuk, sulit untuk meninggalkan pekerjaan,” atau “Sebenarnya saya ingin, tapi ibadah saya masih kacau balau takutnya tidak sesuai,” atau “Sayangnya, capek-capek ngumpulin uang, hanya untuk pergi ke Mekah saja.”

Berbagai macam alasan sering dilontarkan sebagai pembela diri. Nah, agar Anda semakin mantap untuk melaksanakan ibadah haji, atau minimal Anda punya keinginan kuat untuk menunaikan ibadah di tanah suci, perlu Anda ketahui keutamaan haji dan umroh, antara lain:

 

1. Haji Mabrur Menghapus Dosa-dosa dan Melebur Kesalahan

Rasulullah menyatakan bahwa orang yang hajinya mabrur akan diampuni kesalahannya. Betapa banyak dosa yang kita buat selama hidup di dunia, jika tidak diampuni, maka sangat malang sekali nasib kita ini.

Limpahan materi di dunia tidak akan ada artinya, jika nanti kita di siksa di neraka. Harta, jabatan, dan kekayaan tidak ada nilainya saat kita di akhirat kelak tidak punya bekal apa-apa. Terlebih jika kita masih punya dosa-dosa, pasti akan menambah berat beban siksaan kita di akhirat.

Solusi dari semua itu adalah mengerjakan haji dengan benar. Jika kita berniat agar haji kita mabrur dan berusaha semaksimal mungkin, insya Allah kita akan termasuk orang-orang yang hajinya mabrur dan dosa-dosa kita diampuni Allah swt.

2. Menghilangkan Kefakiran

Bukan hanya dosa-dosa yang akan diampuni, tetapi orang yang menunaikan haji diberi janji oleh Allah dihilangkan kefakirannya. Sudah bukan rahasia lagi, jika ada orang yang berangkat haji, kemudian di tanah air uangnya kembali seperti semula.

Jadi, tidak perlu khawatir uang kita akan “menguap” begitu saja, karena Allah Sang Pemberi rezeki yang akan menggantinya. Memang tidak langsung sim salabim ada, tetapi dengan izin Allah akan ada pintu-pintu yang sebelumnya tidak terduga ternyata menghasilkan pundi-pundi harta.

3. Umroh ke Umroh Merupakan Penghapus Dosa dan Surga Merupakan Balasan Haji Mabrur

Bagi jamaah yang berada di Makkah hendaknya sesering mungkin melakukan umroh, karena di antara satu umroh ke umroh berikutnya merupakan kifarat (penggugur dosa). Sedangkan bagi jamaah yang hajinya mabrur dijanjikan Allah mendapat surga.

Jika kita ditanya, apa tujuan hidup ini. Banyak yang menjawab ingin sukses. Tapi apa sebenarnya sukses itu? Apakah indikator sukses itu, apakah harta yang melimpah, rumah yang megah, mobil yang mewah, ataukah apa?

Sukses bagi seorang muslim indikatornya adalah diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Jadi, selama di dunia, berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menggapai surga, karena percuma jika kita hidup di dunia bergelimangan harta tapi di akhirat nanti sengsara.

Jadi, tunggu apalagi, bersiaplah untuk segera menunaikan ibadah haji. Bagi yang sudah berkelebihan harta, jangan menunda. Sebab Anda tidak akan tahu apakah hari esok Anda masih ada dan apakah hari esok Anda masih jaya. Sedangkan bagi yang belum punya harta cukup, senantiasa berdoa dan berusaha. Ketika Anda bekerja, sisihkanlah sebagian harta untuk tabungan haji. Jika Anda bersungguh-sungguh ingin menjadi haji mabrur, Allah pasti akan menolong Anda. Betapa banyak contohnya, orang yang pekerjaannya hanya sebagai pencari kayu bakar di hutan dan di jual ke kota dengan dipanggul, akhirnya bisa menunaikan haji setelah menabung selama 20 tahun. Intinya, teruslah berusaha dan berdoa, semoga Allah mengabulkan niat baik Anda semua.

DEFINISI HAJI DAN LATAR BELAKANG HAJI

Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan umat Islam sedunia yang mampu (secara material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu.

DEFINISI HAJI DAN LATAR BELAKANG HAJI

Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, bermalam di Muzdalifah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10, 11, dan 12 Dzulhijjah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.

 

Definisi

Secara lughawi (bahasa), haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan tempat-tempat tertentu dalam definisi di atas, selain Ka’bah dan Mas’a(tempat sa’i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.

Latar Belakang Ibadah haji

Orang-orang Arab pada zaman jahiliah telah mengenal ibadah haji ini yang mereka warisi dari nenek moyang terdahulu dengan melakukan perubahan di sana-sini. Akan tetapi, bentuk umum pelaksanaannya masih tetap ada, seperti thawaf, sa’i, wukuf, dan melontar jumrah. Hanya saja pelaksanaannya banyak yang tidak sesuai lagi dengan syariat yang sebenarnya. Untuk itu, Islam datang dan memperbaiki segi-segi yang salah dan tetap menjalankan apa-apa yang telah sesuai dengan petunjuk syara’ (syariat), sebagaimana yang diatur dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Latar belakang ibadah haji ini juga didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh nabi-nabi dalam agama Islam, terutama Nabi Ibrahim (nabinya agama Tauhid). Ritual thawaf didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh umat-umat sebelum Nabi Ibarahim. Ritual sa’i, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah (daerah tinggi di sekitar Ka’bah yang sekarang sudah menjadi satu dengan Masjidil Haram, Makkah), juga didasarkan untuk mengenang ritual istri Nabi Ibrahim bernama Siti Hajar ketika mencari air untuk anaknya, Nabi Ismail.

Sumber: wikepedia

SEJARAH PERJALANAN HAJI RASULULLAH SAW

Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad dari bapaknya, dia berkata, “Saya meminta kepada Jabir bin Abdillah untuk mengabarkan tentang haji Rasulullah SAW.”

Dia (Jabir) berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak berhaji selama sembilan tahun. Beliau diijinkan pada tahun kesepuluh. Pada tahun itu beliau melakukan haji. Lalu orang-orang berdatangan ke Madinah. Mereka semua ingin berhaji bersama Rasulullah SAW dan mengikuti apa yang dilakukannya.

SEJARAH PERJALANAN HAJI NABI RASULULLAH SAW

Lalu kami keluar bersamanya sampai kami tiba di Dzul Khulaifah. Di sana, Rasulullah SAW shalat di masjid kemudian naik ke Al-Qashwa` (nama unta Nabi). Jika untanya sejajar dengan jamaah, saya bisa melihat sejauh pandangan saya kepada orang yang berada di depannya, baik yang berjalan, yang di sisi kanan, sisi kiri maupun belakangnya.

Lalu beliau bertalbiah dengan suara keras sambil meneriakkan kalimah tauhid, ” Ya Allah saya memenuhi panggilanmu, tiada sekutu bagi-Mu. Segala puji, nikmat,dan kekuasaan hanya milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Rasulullah terus bertalbiah. Ketika kami tiba di Ka’bah, beliau sedang mengusap Rukun Yamani. Lalu beliau berlari pelan tiga putaran kemudian berjalan. Kemudian berhenti di makam Nabi Ibrahi, lalu membaca “Dan jadikanlah makam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (Al-Baqarah: 125), lalu beliau shaat dua rakaat kemudian kembali ke rukun yamani kemudian mengusapnya.

Kemudian beliau keluar melalui pintu menuju Shafa. Tatkala dekat dengan Shafa beliau membaca, “Sesugguhnya Shafa dan Marwah termasuk syiar Allah” (Al-Baqarah: 158), seraya berkata “Mulailah dengan apa yang dimulai Allah (dari Shafa kemudian ke Marwah, penerj.).” Lalu beliau mulai dari Shafa. Beliau naik ke bukit hingga beliau dapat melihat Ka’bah. Lalu beliau menghadap ke Kiblat kemudian mengesakan Allah (membaca tauhid) dan mengagungkannya (bertakbir). Lalu beliau membaca, “Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu baginya. Ia menepati janji-Nya, menolong hambanya, dan mengalahkan musuh sendirian.”

SEJARAH PERJALANAN HAJI NABI RASULULLAH SAW

Lalu beliau turun ke Marwah, hingga kedua kakinya terjerembab di lembah. Ketika kami naik kita beliau berjalan sampai Marwah. Di Marwah, beliau juga melakukan apa yang dilakukan di Shafa. Dan pada akhir thawaf di Marwah, beliau berkata, “Seandainya saya menghadapi urusanku yang telah saya tinggalkan, maka saya tidak akan mengendarai unta, niscaya saya akan menjadikannya umrah.”

Lalu Saraqah bin Malik bin Ju’tsam berkata, “Ya Rasulullah, apakah ini kita lakukan hanya untuk tahun ini saja, ataukah untuk selama-lamanya?” Rasulullah Rasulullah SAW menggumpal jarinya seraya berkata, “Tidak untuk tahun ini saja, tetapi untuk selama-lamanya.”

Pada waktu itu, Ali tiba dari Yaman dengan menunggang unta Rasulullah SAW. Kemudian ia menemukan Fatimah termasuk orang yang ikut berhenti. Dia berpakaian dengan baju yang dicelup dan memakai celak. Ali tidak setuju dengan semua itu. Lalu fatimah menjawab, “Bapakku memerintahkanku seperti ini.”

Lalu Nabi SAW berkata kepada Ali, “Apa yang kamu katakan ketika kamu diwajibkan melakukan haji?” Ali menjawab, “Saya mengatakan, Ya Allah saya bertahlil (beribadah) sebagaimana Rasul-Mu bertahlil.” Nabi kemudian berkata, “Sesungguhnya saya mempunyai tunggangan, maka janganlah kamu mampir/singgah.

Pada waktu itu, orang yang bersama Ali dari Yaman dan yang bersama Nabi mecapai seratus orang.

Maka semua orang berangkat dan menqashar shalat kecuali Nabi dan yang membawa tunggangan.

Ketika pada hari Tarwiyah (8 Dzul Hijjah) mereka semua menuju Mina dan mulai melaksanakan ibadah haji. Rasulullah SAW kemudian turun, lalu shalat zuhur, ashar, magrib, isya, dan subuh bersama mereka.

Kemudian istirahat sebentar sampai terbit matahari. Lalu beliau memerintahkan untuk membuat tenda dengan menancapkan tiang di Namirah (dekat Arafah, tetapi tidak termasuk daerah Arafah). Lalu Rasulullah SAW berjalan. Orang Quraisy tidak pernah ragu, hanya saja mereka pasti berhenti di Masy’ar Al-Haram (pertengahan Muzdalifah), sebagaimana yang kaum Quraisy lakukan pada zaman jahiliah. Karena itulah, Rasulullah SAW mengijinkan sampai tiba di Arafah. Pada waktu itu, beliau telah didirikan tenda di Namirah. Lalu beliau tinggal di sana. Ketika matahari condong, beliau menunggang Al-Qashwa` (unta Nabi). Kemudian beliau mendatangi lembah lalu berkhutbah kepada:

“Sesungguhnya darah kalian dan harta kalian haram, sabagaimana keharaman harimu ini, keharaman bulan ini dan keharaman tempat ini.”

Bukankankah semua masalah Jahiliah diletakkan di bawah kakiku (dimusnahkan), darah Jahiliah juga diletakkan di sana. Darah yang pertama kali saya letakkan adalah darah Rabi’ah bin Al-Harits. Pada waktu itu, ia disusukan di Bani Sa’d, lalu ia dibunuh. Di samping itu, riba kaum Jahiliyah juga telah diletakkan di bawah kakiku. Riba pertama yang diletakkan adalah riba Abbas bin Abi Thalib. Semua ribanya telah diletakkan (dimusnahkan).

“Bertakwalah kepada Allah pada masalah yang berkaitan dengan perempuan. Karena kalian mengambil mereka dengan amanat dari Allah, engkau menghalalkan mereka, kemaluan mereka dengan kata “Allah”. Dan jangan sampai mereka membolehkan seseorang yang kamu tidak sukai mengganggu ranjangmu (selingkuh). Jika mereka melakukannya, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Dan engkau berkwajiban untuk memberikan makan dan pakian kepada mereka dengan baik.”

“Saya telah meninggalkan kepada kalian sesuatu yang tidak akan membuat kalian tersesat setelahnya jika kalian berpegang teguh padanya, yaitu kitab Allah dan pertanyaan kalian tentangku (hadits). Lalu bagaimana pendapat kalian?”

Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, engkau telah melaksanakan tugas dan memberikan nasihat.”

Lalu beliau bersabda, dengan jari telunjuk menunjuk ke langit kemudian diarahkan kepada orang-orang, “Ya Allah saksikanlah.” Beliau mengulangnya sebanyak tiga kali.

Kemudian Rasulullah SAW menunggang unta hingga tiba di persinggahan. Beliau mengarahkan untanya menuju padang pasir, lalu menaruh tali kambing di depannya dan menghadap kiblat. Beliau tinggal di situ sampai matahari tergelincir ke barat dan warna kuning serta bundarannya sirna. Setelah itu, beliau membonceng Usamah di belakangnya.

Rasulullah SAW kemudian berangkat dengan mengekang tali kekang unta sehingga kepala unta menyentuh pahanya (karena kuatnya Nabi menahan unta) dan berkata dengan mengankat tangan kanannya, “Tenang, tenang wahai saudara-saudara.” Tiap kali beliau menjumpai gunung, beliau memperlambat perjalan sampai beliu tiba di Muzdalifah. Lalu di sana beliau shalat magrib dan isya` dengan satu kali azan dan dua kali iqamah, namun beliau tidak bertasbih sama sekali.

Lalu Rasulullah SAW tidur sampai terbit fajar. Lalu beliau shalat subuh ketika beliau yakin bahwa waktu subuh telah tiba dengan sekali azan dan iqamah.

Kemudian beliau menunggang unta sampai tiba di Masy’ar Al-Haram. Lalu beliau menghadap kiblat lalu shalat fajar lantas berdoa, bertakbir, bertahlil dan membaca kalimat tahuid. Beliau berdiam di sana sampai kelihatan warna kuning di sebelah timur menandakan matahari akan terbit.

Lalu Rasulullah SAW berangkat sebelum matahari terbit dan membonceng Al-Fadhl bin Abbas di belakangnya sampai tiba di pertengahan Muhassir. Kemudian beliau berjalan sedikit dan melalui jalan tengah yang mengarah ke Jamrah Al-Kubra sampai beliau tiba di Jamrah Al-Kubra yang terletak di dekat pohon. Lalu beliau melemparnya dengan tujuh biji kerikil. Beliau membaca takbir pada tiap kerikilnya. Kerikil yang dipakai adalah kerikil yang kecil. Beliau melempar dari lembah. Kemudian beliau menuju ke tempat penyembelihan binatang kurban. Di sana beliau menyembelih 63 unta. Setelah itu beliau memberikan kepada Ali. Lalu Ali menyembelih sisanya dan menemaninya dalam pembagian. Kemudian beliau memerintahkan supaya sapi-sapi tersebut dipotong-potong dan di taruh di panci lalu dimasak. Kemudian beliau berdua (Nabi dan Ali) memakan dagingnya dan meminum kuahnya.

Kemudian Rasulullah SAW berangkat dengan menunggang unta menuju Makkah untuk tawaf ifadhah dan shalat zuhur di sana.”

Jabir berkata, “Kemudian beliau mendatangi kaum Bani Abdul Muththalib. Waktu itu, mereka sedang minum di Zam-Zam. Lalu beliau berkata, “Berhentilah wahai bani Abdul Muththalib. Seandainya bukan karena orang-orang memenangkan kalian terhadap minuman kalian maka saya niscaya saya akan pergi bersama kalian.” Lalu mereka memberikan Rasulullah SAW gayung lantas beliau minum darinya. (HR. Muslim dan Ahmad)

***

Sumber: Al-Wafa`; Keagungan Pribadi Rasulullah karya Ibnul Jauzi

Keutamaan Umroh Ramadhan

Keutamaan Umroh Ramadhan

Bagi mereka yang mampu, Ramadhan juga memberikan kesempatan untuk memetik suatu keistimewaan yang luar biasa melalui umrah Ramadhan. Umrah tersebut dapat dilaksanakan di awal Ramadhan, tengah Ramadhan, atau akhir Ramadhan.

Da’i terkemuka Dr KH Didin Hafidhuddin mengatakan bagi yang mampu, umrah Ramadhan itu sangat dianjurkan. Mengapa? ”Pertama, umrahnya itu sendiri merupakan ibadah yang utama. Kedua, Ramadhan merupakan bulan yang sangat berkah. Perpaduan umrah dan Ramadhan itu menghasilkan keutamaan-keutamaan yang luar biasa. Itu sebabnya, Rasulullah menganjurkan umrah pada waktu Ramadhan,” kata KH Didin .

Keutamaan Umroh Ramadhan

Hal senada diungkapkan oleh General Manager Hudaya Safari, H.M. Wahyu. ”Ada satu hadits Rasulullah yang masyhur dan shahih, yang artinya, ‘Barangsiapa yang umrah bersamaku di bulan Ramadhan nilainya sama dengan pergi haji bersamaku.’ Berdasarkan hadits tersebut, tak heran kalau banyakl berusaha melakukan umrah di bulan Ramadhan,” papar Wahyu

Ia menambahkan, keutamaan yang kedua, di bulan Ramadhan, ada hari-hari yang kemungkinan turunnya Lailatul qadar. Jadi, selain setiap saat kalau beribadah dibalas dengan banyak kebaikan, ada kemungkinan bertemu satu malam yang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan. ”Ini merupakan pelipatgandaan yang luar biasa,” tuturnya.

Pimpinan Ponpes Wisata Hati Ustadz Yusuf Mansur menegaskan, bahwa umrah Ramadhan itu sangat istimewa. ”Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa. Setiap amal dilipatgandakan berlipat-lipat. Ramadhan juga merupakan kesempatan untuk memohon ampun atas segala dosa. Karena itu, sangat dianjurkan bagi mereka yang mampu untuk menunaikan umrah Ramadhan,” ujar Yusuf Mansur .

Ia menyebutkan, balasan pahala dari Allah SWT di bulan Ramadhan luar biasa. ”Nabi mengatakan, shalat di Masjid Nabawi sama dengan shalat 100.000 rakaat. Sedangkan di bulan Ramadhan, pahala ibadah itu oleh Allah dilipatgandakan. Bayangkan, 100.000 dikalikan berkali-kali lipat, hasilnya tak terhingga,” tandas Yusuf Mansur yang juga Pembimbing Ibadah PT Saudi Wisata Travel.

KH Didin menambahkan, ada kenikmatan spiritual yang luar biasa, bagi mereka yang melakukan umrah Ramadhan. Misalnya, Tarawih berjamaah 20 rakaat, shalat Tahajjud berjamaah delapan rakaat, dan Witir berjamaah tiga rakaat. Witirnya saja bisa setengah jam, namun terasa sangat nikmat dan tidak membosankan. ”Bacaan imamnya sangat bagus, suasanya sangat syahdu, orang-orang datang ke Masjidil Haram betul-betul untuk beribadah, tidak ada niat lain. Sehingga, suasananya betul-betul kondusif untuk beribadah,” tandas KH Didin yang juga Pembimbing Ibadah DD Travel.. Wahyu mengatakan, umrah di bulan Ramadhan bisa meraih kekhusyuan yang luar biasa. ”Suasananya sangat syahdu. Orang-orang datang memang betul-betul dengan niat ibadah,” tuturnya.

Wahyu menyebutkan, usai buka puasa dan shalat Maghrib, jamaah umrah pulang ke hotel. Lalu balik lagi untuk shalat Tarawih berjamaah. Pulang ke hotel lagi. Kemudian balik lagi shalat tahajjud dan Witir berjamaah. Balik ke hotel untuk sahur. Balik lagi ke Masjid untuk shalat Shubuh berjamaah sampai usai shalat Dhuha, baru kemudian pulang ke hotel. ”Jadi, kondisinya memang terkondisikan untuk ibadah,” papar Wahyu.

Yusuf Mansur mengemukakan, umrah Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk beramal ibadah maupun merenung sebaik mungkin. ”Untuk mencapai konsentrasi, tidak ada tempat yang lebih baik selain Makkah dan Madinah (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi),” tandas Yusuf Mansur.

Berlomba-lomba sedekah

Walaupun ibadah umrah Ramadhan sangat dianjurkan, KH Didin mengingatkan, agar jangan lupa mengasah kepekaan sosial. ”Kesalehan sosial harus dikembangkan secara terpadu. Jadi, ibadah ritual dan ibadah sosial itu sama-sama diutamakan. Umrah Ramadhan itu utama, tapi jangan lupa berzakat dan bersedekah,” ujar KH Didin yang juga Ketua Baznas.

Hal senada diungkapkan Yusuf Mansur. Menurutnya, ada fenomena bersedekah yang luar biasa di Tanah Suci khususnya pada bulan Ramadhan. ”Pada bulan Ramadhan, kita bisa saksikan gairah bersedekah yang luar biasa di Masjid-masjid. Orang-orang Arab Saudi berlomba-lomba untuk bersedekah. Mereka berebut untuk memberi sedekah, bukan mencari sedekah,” kata Yusuf Mansur.

Wahyu menambahkan, ada pengalaman menarik dan unik di Tanah Suci tiap bulan Ramadhan. Saat buka puasa bersama di masjid-masjid, terutama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, makanan berlimpah. Begitu jamaah datang ke masjid, hidangan sudah tersedia. Itulah yang disebut Maidah Rahman. ”Ada dua kemungkinan sumber makanan tadi, yakni bantuan resmi dari Kerajaan dan orang-orang kaya yang sangat gemar dan berlomba-lomba bersedekah,” kata Wahyu.

(sumber Republika)